
Play/Download
Sudah merupakan rutinitas jika dalam liburan panjang Aku menginap
dirumah Om Bagas dan Tante Rita di Jakarta. Karena kebetulan juga,
tempat kerjaku adalah di sebuah sekolah terkenal di Manado. Jadi, kalau
pas liburan panjang, otomatis aku juga libur kerja. Tapi sudah sekitar 6
tahun Aku tak pernah lagi liburan ke Jakarta karena sibuk mengurusi
kerjaan yang menumpuk. Baru pada tahun 2012 lalu Aku bisa merasakan
nikmatnya liburan panjang. Rumah Om Bagas bisa digolongkan pada rumah
mewah yang besar. Walaupun begitu, rumahnya sangat nyaman. Itulah
sebabnya aku senang sekali bisa liburan ke sana.
Aku tiba di
rumah Om Bagas pada pukul 22.00. karena kelelahan aku langsung tidur
pulas. Besok paginya, aku langsung disambut oleh hangatnya nasi goreng
untuk sarapan pagi. Dan yang bikin aku kaget, heran bercampur kagum, ada
sosok gadis yang dulunya masih kelas 4 SD, tapi kini sudah tumbuh
menjadi remaja yang cantik jelita. Namanya Nina. Kulitnya yang putih,
matanya yang jernih, serta tubuhnya yang indah dan seksi, mengusik
mataku yang nakal.
"Hallo Kak..! Sorry, tadi malam Nina kecapean
jadi tidak menjemput kakak. Silahkan di makan nasi gorengnya, ini Nina
buat khusus dan spesial buat Kakak." Katanya sembari menebarkan
senyumnya yang indah. Aku langsung terpana.
"Ini benar Nina yang dulu, yang masih ingusan?" Kataku sambil ngeledek.
"Ia, Nina siapa lagi! Tapi udah enggak ingusan lagi, khan?" katanya sambil mencibir.
"Wah..! Udah lama enggak ketemu, enggak taunya udah gede. Tentu udah punya pacar, ya? sekarang kelas berapa?" tanyaku.
"Pacar?
Masih belum dikasih pacaran sama Papa. Katanya masih kecil. Tapi
sekarang Nina udah naik kelas dua SMA, lho! Khan udah gede?" jawabnya
sambil bernada protes terhadap papanya.
"Emang Nina udah siap pacaran?" tanyaku.
Nina menjawab dengan enteng sambil melahap nasi goreng.
"Belum mau sih..! Eh ngomong-ngomong nasinya dimakan, dong. Sayang, kan! Udah dibuat tapi hanya dipelototin."
Aku
langsung mengambil piring dan ber-sarapan pagi dengan gadis cantik itu.
Selama sarapan, mataku tak pernah lepas memandangi gadis cantik yang
duduk didepanku ini.
"Mama dan Papa kemana? koq enggak sarapan bareng?" tanyaku sambil celingak-celinguk ke kiri dan ke nanan.
Nina langsung menjawab, "Oh iya, hampir lupa. Tadi Mama nitip surat ini buat kakak. Katanya ada urusan mendadak".
Nina
langsung menyerahkan selembar kertas yang ditulis dengan tangan. Aku
langsung membaca surat itu. Isi surat itu mengatakan bahwa Om Bagas dan
Tante Rita ada urusan Kantor di Surabaya selama seminggu. Jadi mereka
menitipkan Nina kepadaku. Dengan kata lain Aku kebagian jaga rumah dan
menjaga Nina selama seminggu.
"Emangnya kamu udah biasa ditinggal kayak gini, Nin?" tanyaku setelah membaca surat itu.
"Wah, Kak! seminggu itu cepat. Pernah Nina ditinggal sebulan" jawabnya.
"Oke deh! sekarang kakak yang jaga Nina selama seminggu. Apapun yang Nina Mau bilang saja sama kakak. Oke?" kataku.
"Oke, deh! sekarang tugas kakak pertama, antarkan Nina jalan-jalan ke Mall. Boleh, Kak?" Nina memohon kepadaku.
"Oh, boleh sekali. Sekarang aja kita berangkat!" setelah itu kami beres-beres dan langsung menuju Mall.
Siang
itu Nina kelihatan cantik sekali dengan celana Jeans Ketat dan kaos
oblong ketat berwarna merah muda. Semua serba ketat. Seakan memamerkan
tubuhnya yang seksi.
Pulang Jalan-jalan pukul 19. 00 malam, Nina
kecapean. Dia langsung pergi mandi dan bilang mau istirahat alias
tidur. Aku yang biasa tidur larut pergi ke ruang TV dan menonton acara
TV. Bosan menonton acara TV yang kurang menyenangkan, Aku teringat akan
VCD Porno yang Aku bawa dari Manado. Sambil memastikan Nina kalau sudah
tidur, Aku memutar Film Porno yang Aku bawa itu. Lumayan, bisa
menghilangkan ketegangan akibat melihat bodinya Nina tadi siang.
Karena keasyikan nonton, Aku tak menyadari Nina udah sekitar 20 menit menyaksikan Aku Menonton Film itu.
Tiba-tiba,
"Akh..! Nina memekik ketika di layar TV terlihat adegan seorang
laki-laki memasukkan penisnya ke vagina seorang perempuan. Tentu saja
Aku pucat mendengar suara Nina dari arah belakang. Langsung aja Aku
matikan VCD itu.
"Nin, kamu udah lama disitu?" tanyaku gugup.
"Kak, tadi Nina mau pipis tapi Nina dengar ada suara desahan jadi Nina kemari" jawabnya polos.
"Kakak
ndak usah takut, Nina enggak apa-apa koq. Kebetulan Nina pernah dengar
cerita dari teman kalo Film Porno itu asyik. Dan ternyata benar juga.
Cuma tadi Nina kaget ada tikus lewat". Jawab Nina. Aku langsung lega.
"Jadi Nina mau nonton juga?" pelan-pelan muncul juga otak terorisku.
"Wah, mau sekali Kak!" Langsung aja ku ajak Nina menonton film itu dari awal.
Selama menonton Nina terlihat meresapi setiap adegan itu. Perlahan namun pasti Aku dekati Nina dan duduk tepat disampingnya.
"Iseng-iseng
kutanya padanya "Nina pernah melakukan adegan begituan?" Nina langsung
menjawab tapi tetap matanya tertuju pada TV.
"Pacaran aja belum apalagi adegan begini."
"Mau
ndak kakak ajarin yang kayak begituan. Aysik, lho! Nina akan rasakan
kenikmatan surga. Lihat aja cewek yang di TV itu. Dia kelihatannya
sangat menikmati adegan itu. Mau ndak?" Tanyaku spontan.
"Emang kakak pandai dalam hal begituan?" tanya Nina menantang.
"Ee..!
nantang, nih?" Aku langsung memeluk Nina dari samping. Eh, Nina diam
aja. Terasa sekali nafasnya mulau memburu tanda Dia mulai terangsang
dengan Film itu.
Aku tak melepaskan dekapanku dan Sayup-sayup
terdengar Nina mendesah sambil membisikkan, "Kak, ajari Nina dong!". Aku
seperti disambar petir.
"Yang benar, nih?" tanyaku memastikan.
Mendengar itu Nina langsung melumat bibirku dengan lembut. Aku
membiarkan Dia memainkan bibirku. Kemudian Nina melepas lumatannya.
"Nina
serius Kak. Nina udah terangsang banget, nih!" Mendengar itu, aku
langsung tak menyia-nyiakan kesempatan. Aku langsung melumat bibir indah
milik Nina. Nina menyambut dengan lumatan yang lembut.
Tiga
menit kemudian entah siapa yag memulai, kami berdua telah melepaskan
pakaian kami satu persatu sampai tak ada sehelai benangpun melilit tubuh
kami. Ternyata Nina lebih cantik jika dilihat dalam kondisi telanjang
bulat. Aku mengamati setiap lekuk tubuh Nina dengan mataku yang
jelalatan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sempurna. Nina memiliki
tubuh yang sempurna untuk gadis seumur dia. Susunya yang montok dan
padat berisi, belum pernah tersentuh oleh tangan pria manapun.
"Koq
Cuma dilihat?" Lamunanku buyar oleh kata-kata Nina itu. Merasa
tertantang oleh kata-katanya, Aku langsung membaringkan Nina di Sofa dan
mulai melumat bibirnya kembali sambil tanganku dengan lembutnya
meremas-remas susunya Nina yang montok itu. Nina mulai mendesah-desah
tak karuan.
Tak puas hanya meremas, semenit kemudian sambil
tetap meremas-remas, Aku menghisap puting susu yang berwarna merah muda
kecoklatan itu, bergantian kiri dan kanan.
"Oh.. Kak.. Kak..!
Enak se.. ka.. li.. oh..!" desah Nina yang membakar gairahku. Jilatanku
turun ke perut dan pusar, lalu turun terus sampai ke gundukan kecil
milik Nina yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang masih sedikit.
"Ah..
Geli sekali, Kak.. Oh.. nikmat..!" desah Nina waktu Aku jilat
Kelentitnya yang mulai mengeras karena rangsangan hebat yang aku
ciptakan. Tanganku tak pernah lepas dari Susu Nina yang montok itu.
Tiba-tiba, Nina memekik dan melenguh tertahan sambil mengeluarkan cairan
vagina yang banyak sekali.
"Akh.. ah.. oh.. e.. nak.. Kak..
oh..!" Itulah orgasme pertamanya. Aku langsung menelan seluruh cairan
itu. Rasanya gurih dan nikmat.
"Gimana Enak, Nin?" tanyaku sambil mencubit puting susunya.
"Wah,
Kak! Nikmat sekali. Rasanya Nina terbang ke surga." Jawabnya sambil
meraih baju dalamnya. Melihat itu, Aku langsung mencegahnya.
"Tunggu, Masih ada yang lebih nikmat lagi." Kataku.
"Sekarang
kakak mau ajarin Nina yang kayak begitu" sambil menunjuk adegan di TV
dimana serang perempuan yang sedang menghisap penis laki-laki.
"Gimana, mau?" Tanyaku menantang.
"Oke
deh!" Nina menjawab dan langsung meraih penisku yang masih tertidur.
Nina mengocok perlahan penisku itu seperti yang ada di TV. Lalu dengan
malu-malu Dia memasukkannya ke mulutnya yang hangat sambil
menyedot-nyedot dengan lembut. Mendapat perlakuan demikian langsung aja
penis ku bangun. Terasa nikmat sekali diperlakukan demikian. Aku menahan
Air maniku yang mau keluar. Karena belum saatnya. Setelah kurang lebih
15 menit diemut dan dibelai olah tangan halus Nina, penisku udah siap
tempur.
"Nah sekarang pelajaran yang terakhir" Kataku. Nina
menurut aja waktu Aku angkat Dia dan membaringkan di atas karpet. Nina
juga diam waktu Aku mengesek-gesek penisku di mulut vaginanya yang masih
perawan itu. Karena udah kering lagi, Aku kembali menjilat kelentit
Nina sampai Vaginanya banjir lagi dengan cairan surga. Nina hanya pasrah
saja ketika Aku memasukkan penisku ke dalam vaginanya.
"Ah..
Sakit, Kak.. oh.. Kak..!" jerit Nina ketika kepala penisku menerobos
masuk. Dengan lembut Aku melumat bibirnya supaya Nina tenang. Setelah
itu kembali Aku menekan pinggulku.
"Oh.. Nina.. sempit sekali..
Kamu memang masih perawan, oh..!" Nina hanya memejamkan mata sambil
menahan rasa sakit di vaginanya.
Setelah berjuang dengan susah payah, Bless..!
"Akh..
Kak.. sakit..!" Nina memekik tertahan ketika Aku berhasil mencoblos
keperawanannya dengan penisku. Terus saja Aku tekan sampai mentok, lalu
Aku memeluk erat Nina dan berusaha menenangkan Dia dengan
lumatan-lumatan serta remasan-remasan yang lembut di payudaranya.
Setelah tenang, Aku langsung menggenjot Nina dengan seluruh kemampuanku.
"Oh.. e.. oo.. hh.., ss.. ah..!" Nina mendesah tanpa arti.
Kepalanya kekanan-kekiri menahan nikmat. Nafasnya mulai memburu.
Tanganku tak pernah lepas dari payudara yang sejak tadi keremas-remas
terus. Karena masih rapat sekali, penisku terasa seperti di remas-remas
oleh vaginanya Nina,
"Oh.. Nin, enak sekali vaginamu ini, oh..!" Aku mendesah nikmat.
"Gimana, enak? nikmat?" tanyaku sambil terus menggenjot Nina.
"enak.. sekali, Kak.. oh.. nikmat. Te.. rus.. terus, Kak.. oh..!" Desah Nina.
Setelah kurang lebih 25 menit Aku menggenjot Nina, tiba-tiba Nina mengejang.
"K.. Kak..! Nina udah enggak tahan. Nina mau pi.. piss.. oh..!" Kata Nina sambil tersengal-sengal.
"Sabar, Nin! Kita keluarkan Bersama-sama, yah! Satu.." Aku semakin mempercepat gerakan pinggulku.
"Dua..,
Ti.. nggak.. oh.. yess..!" Aku Menyemburkan Spermaku, croot.. croot..
croott..! Dan bersamaan dengan itu Nina juga mengalami orgasme.
"Akh..
oh.. yess..!" Nina menyiram kepala penisku dengan cairan orgasmenya.
Terasa hangat sekali dan nikmat. Kami saling berpelukan menikmati
indahnya orgasme. Setelah penisku menciut di dalam vagina Nina, aku
mencabutya. Dan langsung terbaring di samping Nina. Kulihat Nina masih
tersengal-sengal. Sambil tersenyum puas, Aku mengecup dahi Nina dan
berkata
"Thank's Nina! Kamu telah memberikan harta berhargamu
kepada kakak. Kamu menyesal?" Sambil tersenyum Nina menggelengkan
kepalanya dan berkata,
"Kakak hebat. Nina bisa belajar banyak
tentang Sex malam ini. Dan Nina Serahkan mahkota Nina karena Nina
percaya kakak menyayangi Nina. Kakak tak akan ninggalin Nina. Thank's ya
Kak! Yang tadi itu nikmat sekali. Rasanya seperti di surga."
Kemudian
kami membenahi diri dan membersihkan darah perawan Nina yang berceceran
di karpet. Masih memakai BH dan celana dalam, Nina minta Aku memandikan
Dia seperti yang Aku lakukan sekitar enam tahun yang lalu. Aku menuruti
kemauannya. Dan kamipun madi bareng malam itu. Sementara mandi, pikiran
ngereskupun muncul lagi ketika melihat payudara Nina yang mengkilat
kena air dari shower. Langsung aja kupeluk Nina dari belakang sambil
kuremas payudaranya.
"Mau lagi nih..!" Kata Nina menggoda. Birahiku langsung naik digoda begitu.
"Tapi
di tempat tidur aja, Kak. Nina capek berdiri" kata Nina berbisik. Aku
langsung menggendong Nina ke tempat tidurnya dan menggenjot Nina di
sana. Kembali kami merasakan nikmatnya surga dunia malam itu. Setelah
itu kami kelelahan dan langsung tertidur pulas.
Pagi harinya,
aku bangun dan Nina tak ada disampingku. Aku mencari-cari tak tahunya
ada di dapur sedang menyiapkan sarapan pagi. Maklum tak ada pembantu.
Kulihat Nina hanya memakai kaos oblong dan celana dalam saja. Pantatnya
yang aduhai, sangat elok dilihat dari belakang. Aku langsung menerjang
Nina dari belakang sambil mengecup leher putihnya yang indah. Nina kaget
dan langsung memutar badannya. Aku langsung mengecup bibir sensualnya.
"Wah..
orang ini enggak ada puasnya..!" kata Nina Menggoda. Langsung saja
kucumbu Nina di dapur. Kemudian Dia melorotkan celana dalamku dan mulai
menghisap penisku. Wah, ada kemajuan. Hisapannya semakin sempurna dan
hebat. Aku pun tak mau kalah. Kuangkat Dia keatas meja dan menarik
celana dalamnya dengan gigiku sampai lepas. Tanganku menyusup ke dalam
kaos oblongnya. Dan ternyata Nina tak memakai BH. Langsung aja
kuremas-remas susunya sambil kujilat-jilat kelentitnya. Nina minta-minta
ampun dengan perlakuanku itu dan memohon supaya Aku menuntaskan
kerjaanku dengan cepat.
"Kak.. masukin, Kak.. cepat.. oh.. Nina
udah enggak tahan, nih!" Mendengar desahan itu, langsung aja kumasukkan
penisku kedalam lubang surganya yang telah banjir dengan cairan pelumas.
Penisku masuk dengan mulus karena Nina sudah tidak perawan lagi kayak
tadi malam. Dengan leluasa Aku menggenjot Nina di atas meja makan.
Setelah sekitar 15 menit, Nina mengalami orgasme dan disusul dengan Aku yang menyemburkan spermaku di dalam vagina Nina.
"Oh.. enak.. Kak.. akh..!" desah Nina. Aku melenguh dengan keras
"Ah.. yes..! Nina, kamu memang hebat.."
Setelah itu kami sarapan dan mandi sama-sama. Lalu kami pergi ke Mall. Jalan-jalan.
Begitulah
setiap harinya kami berdua selama seminggu. Setelah itu Om Bagas dan
Tante Rita pulang tanpa curiga sedikitpun kamipun merahasiakan semuanya
itu. Kalau ada kesempatan, kami sering melakukkannya di dalam kamarku
selama sebulan kami membina hubungan terlarang ini. Sampai Aku harus
pulang ke Manado. Nina menangis karena kepergianku. Tapi Aku berjanji
akan kembali lagi dan memberikan Nina Kenikmatan yang tiada taranya.